Showing posts with label Biologi. Show all posts
Showing posts with label Biologi. Show all posts

Wednesday, June 6, 2012

FOTOSINTESIS

 

Fotosintesis adalah suatu proses biokimia yang dilakukan tumbuhan, alga, dan beberapa jenis bakteri untuk memproduksi energi terpakai (nutrisi) dengan memanfaatkan energi cahaya. Hampir semua makhluk hidup bergantung dari energi yang dihasilkan dalam fotosintesis. Akibatnya fotosintesis menjadi sangat penting bagi kehidupan di bumi. Fotosintesis juga berjasa menghasilkan sebagian besar oksigen yang terdapat di atmosfer bumi. Organisme yang menghasilkan energi melalui fotosintesis (photos berarti cahaya) disebut sebagai fototrof. Fotosintesis merupakan salah satu cara asimilasi karbon karena dalam fotosintesis karbon bebas dari CO2 diikat (difiksasi) menjadi gula sebagai molekul penyimpan energi. Cara lain yang ditempuh organisme untuk mengasimilasi karbon adalah melalui kemosintesis, yang dilakukan oleh sejumlah bakteri.

Fotosintesis adalah suatu proses pembentukan bahan organik dari bahan anorganik (CO2, H2O, H2S ) dengan bantuan cahaya matahari dan klorofil. Reaksi keseluruan fotosintesis dapat di tuliskan sebagai berikut :

12H2O + 6CO2 + cahaya → C6H12O6 (glukosa) + 6O2 + 6H2O

Sunday, April 29, 2012

BIOTEKNOLOGI KULTUR SEL DAN JARINGAN




Kultur jaringan (tissue culture) untuk memahami aspek mekanisme kontrol dan diferensiasi fungsi sel telah berkembang sejak satu abad yang lalu, melalui masa-masa pengembangan yang pada awalnya sederhana, diikuti fase perkembangan ekspansif pada pertengahan abad yang lalu, dan kini berada pada fase pengembangan.
Perkembangan ilmu biologi molekuler menyebabkan sulitnya melihat batas pemisah antara biologi molekuler dan tissue culture. Saling bergantungnya perkembangan masing-masing teknologi ini, sukar untuk dinyatakan batas berhentinya teknologi tissue culture dan mulai berkembanganya teknologi biologi molekuler. Meskipun tantangan untuk mendapatkan sel-sel yang tumbuh secara in vitro telah terjawab dan diversitas jenis sel telah meningkat secara konstan, tissue culture kini sudah semakin populer dibanding sebelumnya. Untuk beberapa kalangan tissue culture menghadirkan peluang untuk mengurangi percobaan hewan yang tidak perlu, untuk kalangan lainnya teknologi tissue culture mendorong kemampuan untuk menghasilkan produk farmasi inovatif yang lebih ekonomis.
Untuk beberapa kalangan tertentu teknologi ini masih menjadi dasar guna mengeksplorasi permasalahan regulasi sel dan pengembangan intervensi medis. Sangat jelas bahwa penelitian tentang aktivitas selular pada tissue culture akan membawa berbagai manfaat, meski demikian perhatian diperlukan terhadap berbagai kelemahan teknologi ini. Hal ini penting untuk membangun perhatian yang lebih besar guna pengembangannya di masa mendatang.
 

Saturday, April 28, 2012

IMPLANTASI (NIDASI) DAN PLASENTASI

 
 
Setelah terjadi fertilisasi, zigot mamalia yang terbentuk segera mengalami proses pembelahan (segmentasi|) di dalam oviduk. Selanjutnya blastula (=blastosis - terdiri dari inner cell mass/ embrioblas dan trofoblas) akan mengalir ke dalam uterus. Pada manusia, perjalanan zigot yang berkembang di dalam oviduk adalah sekitar 5 hari. Setelah memasuki uterus, mula-mula blastosis terapung-apung di dalam lumen uterus. Selanjutnya, 6-7 hari setelah fertilisasi embrio mengadakan pertautan dengan dinding uterus untuk dapat berkembang ke tahap selanjutnya.
Peristiwa terpautnya embrio pada endometrium uterus induk disebut implantasi (nidasi). Bagian yang pertama kali menyentuh endometrium uterus adalah kutub animal (kitub embrionik), yaitu kutub tempat terdapatnya inner cell mass. Pada waktu itu sel-sel trofoblas mensekresikan enzim-enzim proteolitik yang akan menghancurkan epitelium uterus sebagai jalan untuk berpenetrasinya embrio ke dalam endometrium. Setelah terbentuk “jalan masuk”, trofoblas aakan bertransformasi menjadi 2 lapisan, yaitu sitotrofoblas dan sinsitiotrofoblas. Implantasi pada manusia telah lengkap (yaitu seluruh embrio telah tertanam di dalam endometrium uterus) 12 hari setelah fertilisasi.

ORGANOGENESIS

 
· Organogenesis adalah proses pembentukan organ-organ tubuh eksternal dan internal embrio, yang berasal dari lapisan-lapisan lembaga ektoderm, mesoderm dan endoderm.
· Organogenesis merupakan tahapan perkembangan embrio yang paling sensitif dan memerlukan waktu paling lama.
· Suatu organ dikatakan turunan/ derivat dari suatu lapisan lembaga, bukan berarti seluruh bagian organ itu terbentuk dari lapisan lembaga tersebut, tetapi karena bagian yang terbentuk pertama kali dari organ itu dibentuk pada lapisan lembaga tersebut.
Misalnya: usus dikatakan sebagai turunan endoderm, karena bagian dari usus yang pertama kali terbentuk, yaitu epitelnya, terbentuk pada lapisan/ bumbung endoderm. Jaringan lain penyusun usus berasal dari mesoderm atau mesenkim.

Saturday, April 14, 2012

Transpirasi


Transpirasi  adalah proses pengeluaran air oleh tumbuhan dalam bentuk uap air ke atmosfer. Banyaknya air yang ditranspirasikan oleh tumbuhan merupakan kejadian yang khas, meskipun perbedaan terjadi antara satu spesies dengan spesies lain. Berdasarkan atas sarana yang digunakan untuk melaksanakan proses transpirasi dibedakan atas : transpirasi stomata, transpirasi kutikula dan transpirasi lentisel. (Dardjat dan Arbayah,1990)
Di samping mengeluarkan air dalam bentuk uap, tumbuhan juga mengeluarkan air dalam bentuk tetesan air yang prosesnya disebut gutasi, dengan melalui alat yang disebut hidatoda, yaitu suatu lubang yang terdapat pada ujung urat daun yang sering kita jumpai pada spesies tumbuhan tertentu. (Dardjat dan Arbayah,1990)
Sehubungan dengan transpirasi, organ tumbuhan yang paling utama dalam melaksanakan proses ini ini adalah daun. Karena pada daunlah kita jumpai stomata paling banyak. Kalau kita bandingkan transpirasi stomata ini dengan transpirasi melalui sarana lain, maka melalui stomata paling banyak dilakukan, oleh karena itu bahasan difokuskan pada transpirasi pada stomata.
Transpirasi penting bagi tumbuhan, karena berperan dalam hal membantu meningkatkan laju angkutan air dan garam-garam mineral, mengatur suhu tubuh dengan cara melepaskan kelebihan panas dari tubuh, dan mengatur turgor optimum di dalam sel. (Dardjat dan Arbayah,1990)

Thursday, April 5, 2012

Muchlenbackia Platyclada Meissn


1.      Klasifikasi Batang Muchlenbackia Platyclada Meissn
-        Divisi         : Spermatophyta
-        Sub divisi  : Angiospermae
-        Kelas         : dicotyledoneae
-        Bangsa      : Polygonales
-        Suku          : Polygonaceae
-        Marga        : Muechlenbeckia
-        Jenis           : Muchlenbackia Platyclada Meissn
2.      Struktur morfologi batang Muchlenbackia Platyclada Meissn

a.  Memiliki cabang batang pipih dan lebar dan menyerupai daun selain itu mempunyai pertumbuhan yang terbatas (filokladia)
b.      Permukaan batangnya licin
c.       Terdapat ruas-ruas yang dibatasi nodus
d.      Tiap nodus tumbuh bunga dan daun yang berselingan
e.       Tiap ruas terdapat daun dan bunga
f.       Daun merupakan daun tunggal, berseling lanset, tidak bertoreh, ujung dan pangkal daun runcing, pertulangan menyirip
g.      Arah percabangan batang simpodial
3.      Hubungan Struktur dan fungsi  filokladia Muchlenbackia Platyclada Meissn
Muchlenbackia Platyclada Meissn merupakan tumbuhan yang memiliki ranting pipih dan melebar seperti daun dan biasanya mengambil alih tuigas daun. Anatominya mengandung kloroplas yang terdapat pada jaringan parenkim

Thursday, March 22, 2012

HORMON SITOKININ

Sitokini Alami

Sitokinin merupakan senyawa dengan struktur yang menyerupai adenine (derivate adenine) yang mengawali (memacu) pembelahan sel dan memiliki fungsi yang mirip dengan kinetin. Kinetin merupakan sitokinin yang pertama kali ditemukan. Kinetin disebut juga sebagai sitokinin karena senyawa ini juga mampu memacu sitokinesis (pembelahan sel). Namun merupakan senyawa alami, kinetin ini tidak disintesis alami oleh tumbuhan oleh karena itu biasanya selalu mengandung sitokinin sintesis (diartikan bahwa hormon ini disintesisnya di tempat lain). Yang paling sering ditemukan pada tanaman dewasa ini dinamakan dengan zeatin yang diisolasi dari tanaman jagung (Arteca, 1996; Mauseth, 1991; Raven, 1992; Salisbury and Ross, 1992 dalam Author, tanpa tahun).
Sitokinin telah ditemukan pada sebagian besar tumbuhan tingkat tinggi, sebagaimana yang ditemukan pada jamur, fungi, bakteri, dan juga pada RNA berbagai prokariot dan eukariot. Saat ini lebih dari 200 sitokinin alami dan sitokinin sintetik telah dikombinasikan. Konsentrasi sitokinin lebih tinggi pada daerah meristrematik dan dearah-daerah yang memiliki potensial pertumbuhan terus menerus seperti akar, daun muda, buah yang berkembang, dan biji (Arteca, 1996; Mauseth, 1991; Raven, 1992; Salisbury and Ross, 1992 dalam Author, Tanpa tahun).
Struktur dasar dari sitokinin (zeatin) adalah sebagai berikut:



Tuesday, March 13, 2012

Ascomycetes



Penamaan Ascomycetes berhubungan dengan ciri khas yang dimiliki oleh golongan jamur ini, yaitu tempat terbentuknya spora yang disebut askus sehingga sporanya disebut askospora. Kelompok jamur yang hidup di darat dan memiliki bentuk tumbuh pada bermacam-macam habitat. Talus pada umunya berupa filamen yang secara teratur bersekat, meskipun tidak sempurna. Sel atau segmen masing-masing berisi satu atau lebih inti. Fase motil dalam daur hidupnya tidak ada, bahkan sel reproduksinya adalah non motil.

Ciri-Ciri Umum:
v  Fase somatik pada umumnya adalah miselium bercabang dengan sekat teratur, meskipun sekatnya terdapat lubang sederhana.
v  Persatuan hifa antara hifa tetangga sering terjadi.
v  Karakteristik spora yang disebut askospora.
v  Adanya fase dikariotik dalam daur hidupnya.
v  Pada umunya asci dibentuk pada tubuh buah yang disebut askokarp.

Sunday, March 4, 2012

Evolusi Sel

Evolusi Sel
Semua makhluk hidup tersusun atas sel-sel, membran kecil yang mengelilingi ruangan berisi cairan kimia. Bentuk makhluk hidup paling sederhana adalah sel-sel soliter yang memperbanyak diri dengan pembelahan biner. Organisme yang lebih tinggi seperti manusia, tampak seperti kota sel yang setiap kelompok kecil mempunyai fungsi dan spesialisasi masing-masing dan dihubungkan dengan sistem komunikasi yang rumit. Sel menempati setengah skala kompleksitas makhluk biologis. tujuan mamapelajari sel untuk belajar bagaimana membuat  sesuatu dari molekul-molekul dan bagaimana mereka bekerja membentuk organisme yang kompleks seperti manusia.
            Terdapat dua proses penting dalam evolusi sel yaitu; (1) peristiwa variasi acak dalam informasi genetik terjadi pada individu dan keturunannya, (2) seleksi dari berbagai informasi genetik yang membantu pemiliknya untuk bertahan hidup dan berkembang biak. Evolusi adalah sebuah prinsip dasar dalam biologi , dan evolusi membantu kita untuk mengerti beberapa hal yang membingingkan di dunia.

Thursday, December 9, 2010

Propionibacterium acnes

Propionibacterium acnes is a relatively slow growing, typically aerotolerant anaerobic gram positive bacterium (rod) that is linked to the skin condition acne; it can also cause chronic blepharitis and endophthalmitis, the latter particularly following intraocular surgery. The genome of the bacterium has been sequenced and a study has shown several genes that can generate enzymes for degrading skin and proteins that may be immunogenic (activate the immune system).

This bacteria is largely commensal and part of the skin flora present on most people's skin; and lives on fatty acids in the sebaceous glands on sebum secreted by follicles. It may also be found throughout the gastrointestinal tract in humans and many other animals. It is named after its ability to generate propionic acid.

When a pore is blocked, this anaerobic bacterium overgrows and secretes chemicals that break down the wall of the pore, spilling bacteria such as Staphylococcus aureus into the skin, and forming an acne lesion (folliculitis). It has also been found in corneal ulcers, and on very few occasions damaging heart valves leading to endocarditis, and infections of joints (septic arthritis) have been reported. Furthermore, Propionibacterium have been found in ventriculostomy insertion sites, and areas subcutaneous to suture sites in patients that have undergone craniotomy. Propionibacterium acnes can be found in bronchoalveolar lavage of approximately 70% patients with sarcoidosis and is associated with disease activity, however it can be also found in 23% of controls

Pic. P acnes
P. acnes can be killed by benzoyl peroxide, tetracycline group and other antibiotics, and many antibacterial preparations, including clove oil . Tetracycline-resistant P. acnes is now quite common. Clindamycin is also frequently used. New facts show that P. acnes is sensitive to some macrolides such as azithromycin, which has a wide spectrum of action. It is normally prescribed 500 mg by mouth, three times weekly for 4 to 6 weeks, but may have post-antibiotic effects by remaining concentrated in lung tissue for approximately 5 days after treatment stops. Fluoroquinolones may also be effective against P. acnes such as nadifloxacin, ciprofloxacin, ofloxacin and levofloxacin.[citation needed] They are active against P. acnes and some other microorganisms that are also part of the poly-infection